19

Wow! Covid-19 RI Menurun Diduga Bukan Cuma Karena Vaksinasi

Wow! Covid-19 RI Menurun Diduga Bukan Cuma Karena Vaksinasi

Kasus Covid-19 di Indonesia turun bukan hanya karena vaksinasi saja, melainkan kemungkinan berasal dampak dari infeksi virus itu sendiri.

Dari hasil survei serologis antibodi Covid-19 terungkap antibodi masyarakat Indonesia mencapai 99,2%. Ini terjadi jelang Lebaran tahun ini.

Survei serologis ini dilakukan oleh pihak Kementerian Kesehatan bersama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Hasilnya menunjukkan titer antibodi yang tinggi bisa mengurangi risiko akibat Covid-19.

Wow! Covid-19 RI Menurun Diduga Bukan Cuma Karena Vaksinasi

Dia menambahkan antibodi itu terbentuk karena dua hal, yakni vaksinasi dan infeksi Covid-19 yang terjadi pada masyarakat sebelumnya.

Dilaporkan jika kadar antibodi Indonesia meningkat, dari sebelumnya 500-600 menjadi 7.000-8.000. Budi mengatakan ini menunjukkan masyarakat telah memiliki kadar antibodi tinggi selain peningkatannya itu sendiri. Dengan begitu, bisa mengurangi risiko masuk rumah sakit dan meninggal saat terinfeksi virus Covid-19.

“Ini menunjukkan masyarakat bukan hanya yang sudah memiliki antibodi tapi kadar antibodinya tinggi. Sehingga kalau nanti diserang virus daya tahan tubuh bisa cepat menghadapinya, dan mengurangi sekali risiko masuk rumah sakit apalagi risiko untuk wafat,” kata Budi.

Hasil survei ini pernah dilakukan pada akhir tahun lalu sekitar bulan November dan Desember 2021. Saat itu, dilaporkan antibodi masyarakat sebesar 86,6%. Dengan 74% disebutkan telah memiliki antibodi dari infeksi Covid-19.

Indonesia diketahui telah melaksanakan vaksinasi, baik untuk vaksin primer maupun vaksin booster. Semua masyarakat didorong untuk mendapatkan vaksin Covid-19 ini.

Namun di sisi lain, Indonesia juga mengalami beberapa kenaikan kasus cukup signifikan akibat munculnya beberapa varian, yakni pada pertengahan tahun 2021 lalu saat penyebaran Delta dan awal tahun ini karena adanya Omicron.

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

Sejumlah negara sudah melonggarkan aturan penerapan protokol kesehatan karena kasus Covid-19 yang menurut. Namun World Health Organization (WHO) belum juga mengubah status pandemi menjadi Endemi. Kenapa?

Ternyata WHO menganggap kondisi saat ini masih jadi dari kategori endemi. Covid-19 masih dapat memicu wabah besar di seluruh dunia.

irektur Program Kedaruratan Kesehatan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa salah jika berpikir bahwa jika Covid-19 mereda akan menjadi endemi. Covid-29 belum masuk ke pola musiman dan tetap mampu menyebabkan epidemi besar.

“Jangan percaya endemi sama saja semuanya sudah selesai,” kata Ryan seperti dikutip dari media setempat, Kamis (21/4/2022). Ia mencontohkan penyakit tuberkulosis dan malaria sebagai penyakit endemi yang masih membunuh jutaan orang per tahun.

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

Pemimpin Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove mengatakan virus Covid-19 terus beredar pada tingkat tinggi, menyebabkan “kematian dan kehancuran dalam jumlah besar”.

“Kita masih berada di tengah pandemi ini. Kita semua berharap tidak demikian. Tapi kita tidak dalam tahap endemi, “katanya.

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Teknis COVID-19 WHO Maria Van Kerkhove juga mengatakan virus Corona masih sangat menular.

Saat dirinya terinfeksi COVID-19 dan harus diisolasi di Amerika Serikat, ia melihat penyakit itu terus menyebar sehingga menyebabkan tingkat kematian hingga kehancuran dalam jumlah yang besar.

Dia juga membandingkan Covid-19 dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) dan malaria yang kini berstatus sebagai endemi, tetapi masih menjadi penyebab kematian jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun.

Ia menyebut terkendalinya penyebaran Covid-19 saat ini salah satunya karena faktor vaksinasi. Namun efektivitas vaksin Covid-19 menurun seiring berjalannya waktu dan bisa memicu kembali naiknya kasus.

Menurut data Worldometers, saat ini 506,968 juta penduduk Bumi sudah terinfeksi Covid-19. Sebanyak 459,183 juta sembuh dan 6,232 juta meninggal dunia. Amerika Serikat dan India jadi negara yang warganya paling banyak terinfeksi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China ini.