gejala covid 19

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

Sejumlah negara sudah melonggarkan aturan penerapan protokol kesehatan karena kasus Covid-19 yang menurut. Namun World Health Organization (WHO) belum juga mengubah status pandemi menjadi Endemi. Kenapa?

Ternyata WHO menganggap kondisi saat ini masih jadi dari kategori endemi. Covid-19 masih dapat memicu wabah besar di seluruh dunia.

irektur Program Kedaruratan Kesehatan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa salah jika berpikir bahwa jika Covid-19 mereda akan menjadi endemi. Covid-29 belum masuk ke pola musiman dan tetap mampu menyebabkan epidemi besar.

“Jangan percaya endemi sama saja semuanya sudah selesai,” kata Ryan seperti dikutip dari media setempat, Kamis (21/4/2022). Ia mencontohkan penyakit tuberkulosis dan malaria sebagai penyakit endemi yang masih membunuh jutaan orang per tahun.

WHO Buka-bukaan Kenapa Pandemi Covid-19 Belum Jadi Endemi

Pemimpin Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove mengatakan virus Covid-19 terus beredar pada tingkat tinggi, menyebabkan “kematian dan kehancuran dalam jumlah besar”.

“Kita masih berada di tengah pandemi ini. Kita semua berharap tidak demikian. Tapi kita tidak dalam tahap endemi, “katanya.

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Teknis COVID-19 WHO Maria Van Kerkhove juga mengatakan virus Corona masih sangat menular.

Saat dirinya terinfeksi COVID-19 dan harus diisolasi di Amerika Serikat, ia melihat penyakit itu terus menyebar sehingga menyebabkan tingkat kematian hingga kehancuran dalam jumlah yang besar.

Dia juga membandingkan Covid-19 dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) dan malaria yang kini berstatus sebagai endemi, tetapi masih menjadi penyebab kematian jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun.

Ia menyebut terkendalinya penyebaran Covid-19 saat ini salah satunya karena faktor vaksinasi. Namun efektivitas vaksin Covid-19 menurun seiring berjalannya waktu dan bisa memicu kembali naiknya kasus.

Menurut data Worldometers, saat ini 506,968 juta penduduk Bumi sudah terinfeksi Covid-19. Sebanyak 459,183 juta sembuh dan 6,232 juta meninggal dunia. Amerika Serikat dan India jadi negara yang warganya paling banyak terinfeksi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China ini.

Studi Penerima Sinovac-Sinopharm 5X Punya Gejala Covid-19

Studi: Penerima Sinovac-Sinopharm 5X Punya Gejala Covid-19

Sebuah studi yang dilakukan tim peneliti di Singapura mengungkap seseorang yang menerima vaksin Sinovac dan Sinopharm hampir lima kali berisiko gejala Covid -19 lebih parah daripada penerima vaksin covid-19 jenis Pfizer.

Penelitian yang dipublikasikan pada Selasa (12/4) melibatkan 2,7 juta orang di Singapura berusia 20 tahun ke atas, dan menerima dua dosis vaksin di bawah program vaksinasi nasional. Dari total 2,7 juta orang yang terlibat dalam penelitian, sekitar 74 persen menerima vaksin Pfizer, 23 persen menerima Moderna, 2 persen menerima Sinovac, dan 1 persen Sinopharm.

Penelitian bertujuan untuk membandingkan efektivitas vaksin mRNA dan virus utuh yang tidak aktif pada populasi yang sama. Temuan ini dianggap berguna untuk panduan rekomendasi kebijakan, mencegah infeksi, dan mengurangi ketegangan pada sistem perawatan kesehatan.

Tim peneliti yang terdiri dari ahli penyakit menular dari National Center for Infectious Diseases (NCID) dan Kementerian Kesehatan (MOH), mengamati efektivitas yang relatif lebih rendah dari dua vaksin Sinovac dan Sinopharm.

Studi Penerima Sinovac-Sinopharm 5X Punya Gejala Covid-19

Peneliti ini melibatkan direktur eksekutif NCID Leo Yee Sin, ketua komite ahli vaksinasi Covid-19 Benjamin Ong, asisten direktur senior Wycliffe Wei, serta direktur penyakit menular Vernon Lee.

Para peneliti menyimpulkan efektivitas vaksin Sinovac dan Sinopharm lebih rendah, jika dibandingkan dengan efektivitas Pfizer dan Moderna.

Tim menilai orang penerima vaksin Sinovac sebanyak 4,59 kali masih berisiko memiliki gejala covid-19 yang parah, dibandingkan individu yang menerima vaksin Pfizer. Kemudian mereka juga 2,37 kali lebih mudah terinfeksi dibandingkan dengan mereka yang menggunakan vaksin Pfizer.

Gejala parah covid-19 didefinisikan sebagai individu yang membutuhkan oksigen di rumah sakit, maupun perawatan insentif (ICU), hingga menyebabkan kematian.

Dikutip media Internasional, temuan itu juga menunjukkan vaksin Moderna dinilai lebih efektif dalam mencegah penyakit parah,daripada vaksin Pfizer besutan perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech.

Di samping itu tim peneliti menemukan vaksin Covid-19 jenis Moderna kurang dari setengah kali menyebabkan gejala Covid -19 yang parah daripada penerima Pfizer, dan penerima vaksin juga lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi.

Mengutip laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, efektivitas yang lebih tinggi dari Modena kemungkinan karena kandungan mRNA yang lebih tinggi dalam vaksin, dan interval waktu yang lebih lama antara suntikkan.