liverpool

Gerrard Kecewa Dituding Bantu Liverpool untuk Menangi Liga Inggris

Gerrard Kecewa Dituding Bantu Liverpool untuk Menangi Liga Inggris

Manajer Aston Villa Steven Gerrard membahas keterlibatan timnya dalam perburuan titel Liga Inggris antara Manchester City dan Liverpool. Ia kecewa dirinya dinilai condong ke The Reds.

Keterlibatan Aston Villa tak lepas dari jadwal pertandingan yang dihadapi pada pekan-pekan akhir Liga Inggris. Mereka diketahui bermain melawan Liverpool pada pekan ke-35, disusul melawan Man City di pekan ke-38 pada Minggu (22/5/2022) besok.

Saat melawan Liverpool, Aston Villa kalah 1-2 meski unggul terlebih dahulu. Meski timnya sudah tampil habis-habisan, tetap saja ada tudingan Gerrard ‘membantu’ Sadio Mane dkk untuk menjaga peluang juara.

Gerrard Kecewa Dituding Bantu Liverpool untuk Menangi Liga Inggris

Apalagi saat ditahan imbang 1-1 oleh Burnley di pekan ke-37 pada Kamis (19/5) lalu, Gerrard tak menurunkan Philippe Coutinho dan Danny Ings sejak awal, seolah-olah ingin tampil dengan tenaga penuh melawan Man City.

Jika sampai The Citizens gagal menang dan Liverpool mengalahkan Wolverhampton Wanderers, maka titel juara akan melayang ke Anfield. Singkatnya, Gerrard dicurigai membantu Liverpool dalam perebutan gelar juara.

Hal ini yang membuat eks kapten Timnas Inggris itu kecewa. Terlepas dari adanya ikatan kuat dengan Liverpool di masa lalu, Gerrard menegaskan dirinya tetap profesional dan mengutamakan nasib Aston Villa. Kalaupun perjalanan timnya ternyata bisa membantu skuad besutan Juergen Klopp, itu lain soal.

“Terkait dengan Liverpool, saya sangat memahami dan menghormati keriuhan di luar sana dan pertanyaan-pertanyaan yang tertuju pada saya belakangan ini,” ujar Gerrard, dikutipĀ https://transtourism.id/ The Guardian.

“Mereka (Liverpool) sedang bersaing merebut gelar, dan saya lama menghabiskan waktu di sana. Sungguh mengecewakan ketika orang-orang meragukan integritas saya atau Aston Villa ataupun para pemain saya.”

“Kami akan tampil akhir pekan ini dan akan mengerahkan kemampuan terbaik kami untuk meraih poin demi Aston Villa dan juga suporter kami. Jika hal itu ternyata membantu Liverpool (menjadi juara), tentu fantastis,” jelasnya.

Bagi Gerrard, yang penting adalah Aston Villa. Kalaupun timnya bisa menjegal Man City, Liverpool juga perlu menang dulu melawan Wolves, dan hal itu juga belum tentu terjadi.

Man City saat ini berada di puncak klasemen dengan 90 poin dari 37 laga, dan Liverpool ada di posisi kedua dengan 89 poin.

Liverpool Menuju Penguasa Eropa Intelegensi Klopp, Money Ball Michael Edward, Pengaruh Rangnick

Liverpool Menuju Penguasa Eropa: Intelegensi Klopp, Money Ball Michael Edward, Pengaruh Rangnick

Liverpool memiliki kans untuk meraih quadruple di musim 2021/2022. Raihan 3 angka dari Everton membuat Liverpool hanya berjarak satu angka saja dari Manchester City yang berada di puncak klasemen Liga Inggris.

Di Liga Kontinental dan domestik pun Liverpool berada di posisi yang apik untuk memenangkan gelar.

Dalam Liga Champions The Reds berhasil melaju hingga babak semi final, di FA Cup tiket final sukses didapat dengan mengalahkan Man City di semi final.

Tangan dingin Jurgen Klopp benar-benar menjadikan Liverpool sebagai tim superior yang sulit untuk dikalahkan.

Sejak datang ke Anfield pada tahun 2015 lalu, juru taktik asal Jerman itu sukses membuat revolusi di Liverpool.

Mulai mentalitas hingga gaya permainan yang diusung mampu membuat The Reds menjadi tim yang lebih diperhitungkan di eropa.

Perlu diingat, Klopp bukanlah tipe pelatih yang menuntut belanja besar-besaran untuk tim yang ia pegang, ia berbeda dengan Guardiola yang membutuhkan dana melimpah untuk membentuk satu tim hebat.

Selama enam tahun menjabat sebagai juru taktik The Reds, pengeluaran paling banyak hanyalah untuk mendatangkan Virgil van Dijk dari Southampton dengan biaya 70 juta euro.

Moneyball yang diterapkan oleh mantan Direktur Olahraga Liverpool, Michael Edward, menjadi kunci dari kesuksesan bursa transfer The Reds dari musim ke musim yang memanjakan Klopp untuk meracik strategi.

Pemain-pemain yang kini menjadi bintang, seperti Mo Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino, Diogo Jota, Jordan Henderson, hingga Robertson adalah pemain yang diboyong dengan harga dibawah 50 juta euro.

Klopp adalah pelatih yang percaya dengan sebuah proses. Ia membuat sistem permainan berdasarkan kapasitas pemain yang ia miliki.

Klopp jeli dalam menggodok pemain yang biasa-biasa saja sebelumnya menjadi sosok penting dalam taktik yang dia usung.

Nama-nama yang disebutkan di atas adalah contohnya, mereka diboyong dengan banderol di bawah 50 juta euro, namun apa yang mereka tunjukkan di lapangan begitu luar biasa.

Mohamed Salah yang menjadi bintang, diakui sebagai salah satu pemain terbaik di dunia dengan beberapa kali masuk dalam nominasi pemenangan Ballon d’Or.

Awal kehebatan Klopp terlihat saat Liverpool berhasil dibawanya mencapai babak final Piala Liga dan Liga Eropa pada musim 2015/2016.

Lalu di musim selanjutnya (2016/2017), pelatih berusia 52 tahun tersebut mampu membawa The Reds tampil di ajang Liga Champions setelah tiga musim absen.

Liverpool Menuju Penguasa Eropa Intelegensi Klopp, Money Ball Michael Edward, Pengaruh Rangnick

Grafik menanjak kembali mampu Klopp tunjukan di musim 2017/2018, Jordan Henderson dan kolega dibawanya mencapai babak final Liga Champions dan bersua tim raksasa Spanyol, Real Madrid.

Sayangnya, blunder konyol yang dilakukan Karius di partai tersebut membuat Liverpool harus menyerahkan trofi Si Kuping Besar ke tangan Los Blancos.

Namun, bukan Klopp namanya jika ia tak belajar dari kekalahan. Di musim selanjutnya, The Reds sukses dibawanya tampil superior di Liga Champions hingga kembali melangkah ke babak final.

Tottenham Hotspur yang menjadi lawan dibuat tak berdaya, tim asuhan Pochettino berhasil Klopp kalahkan dengan skor meyakinkan 2-0 lewat sumbangan gol Mo Salah dan Divock Origi.

Raihan manis terakhir yang sukses Klopp berikan untuk Liverpool terjadi pada musim 2019/2020.

Liverpool menjalani musim paling luar biasa di liga dengan mengalami jumlah kekalahan yang dapat dihitung jari.

Mereka juga meninggalkan City di urutan kedua dengan selisih poin dua digit yang begitu jauh dan mustahil dikejar bahkan saat kompetisi masih menyisakan tujuh laga sisa.

Gelar Liga Primer Inggris pun berhasil mereka bawa pulang setelah 30 tahun lamanya tak masuk lemari prestasi di Anfield.

“Dia (Jurgen Klopp) akan dikenang selamanya oleh fans di Anfield, Klopp adalah orang yang harus dihormati berkat jasa-jasanya untuk Liverpool,” Kata Gerrard, legenda hidup Liverpool dilansir media Inggris.

Berhasil mencatatkan hasil istimewa untuk The Reds tak membuat eks pelatih Brussia Dortmund itu jumawa.

Dalam sebuah konferensi Pers, Klopp menyebut dirinya adalah The Normal One, dia tak merasa menjadi orang yang spesial walaupun telah memberi gelar bergengsi untuk Liverpool.

Permainan high pressing, gegenpressing, dan direct pass dipertontonkan oleh skuat juru taktik asal Jerman itu.

Ya, ‘Rock and Roll football’ yang diusung Jurgen Klopp dengan 3 skema tersebut mampu membuat Liverpool tampil mempesona musim ini juga musim-musim sebelumnya.

Salah satu yang paling mencolok adalah bagaimana Klopp menerapkan permainan gegenpressing untuk Liverpool.

“Gegenpressing adalah soal ketepatan dan kecepatan, kami memberi waktu 5 detik untuk pemain dapat merebut bola kembali setelah kehilangannya,” kata Klopp, dilansir media Inggris.

“Kami memanfaatkan kegagalan lawan melakukan transisi menyerang untuk menciptakan peluang dan mencetak gol, itu yang kami lakukan,” lanjutnya.

Walaupun menguras stamina dan membuat pemain Liverpool rentan cedera, permainan yang diusung Klopp terbukti efisien untuk meraih 3 poin dan mengalahkan lawan-lawannya yang di atas kertas secara skuat lebih mewah dari tim yang bermarkas di Anfield Stadium tersebut.

Gaya kepelatihan seperti itu tak asing dengan juru taktik Man United bukan? ya, gegenpressing adalah cetusan dari Ralf Rangnick yang dijadikan senjata Jurgen Klopp untuk The Reds.

Rangnick adalah maha guru untuk pelatih-pelatih dari Jerman. Nama-nama seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, hingga pelatih Bayern Munchen, Julian Nagelsmann merupakan murid-nya.

Nama yang disebutkan pertama dapat dibilang sebagai sosok yang menaruh kiblat permainannya seperti Rangncik.

Beberapa pemain Liverpool sekarang adalah bekas asuhan Rangnick ang ia godok di klub terdahulunya.

“Klopp tidak perlu berterima kasih kepada saya. Ini jelas bukan kebetulan bahwa ia memiliki empat mantan pemain saya (Sadio Mane, Naby Keita, Firmino, dan Joel Matip),” Kata Rangnick dilansir media Inggris.

“Karena itu menunjukkan bahwa ia sebenarnya mencari jenis pemain yang sama, dengan aset yang sama, dengan mental yang sama,” lanjutnya.

Jelas bukanlah tanpa alasan mengapa Klopp seniat itu untuk menerapkan filosofi Rangnick untuk Liverpool yang sedang ia buat menjadi tim terbaik Eropa.