monyet afrika

Dokter RSHS Bandung Vaksin Cacar Zaman Dulu Bisa Cegah Cacar Monyet

Dokter RSHS Bandung: Vaksin Cacar Zaman Dulu Bisa Cegah Cacar Monyet

Merebaknya kasus penyakit cacar monyet (monkeypox) di mancanegara ikut menggiring ke pertanyaan soal vaksin untuk menangkal penularannya. Menurut dokter spesialis anak konsultan di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin atau RSHS Bandung Anggraini Alam, dari hasil riset diketahui bahwa vaksin cacar variola (smallpox) bisa menangkal cacar monyet.

“Ada satu yang menyenangkan bagi yang pernah dapat vaksin cacar dulu,” katanya kepada wartawan, Selasa 24 Mei 2022.

Vaksin cacar itu secara global diberikan lewat imunisasi sejak 1956 sampai 1980. Keberhasilan vaksinasi itu, menurut Anggraini, menghabiskan virus cacar di dunia yang dampaknya antara lain bisa membuat kulit wajah penyintasnya menjadi bopeng. “Vaksin itu walaupun untuk cacar tetapi bisa mencegah cacar monyet sampai 85 persen efektifnya,” ujar dia.

Dokter RSHS Bandung Vaksin Cacar Zaman Dulu Bisa Cegah Cacar Monyet

Tanda orang yang divaksin cacar pada kurun 1956-1980 itu adalah bekas suntikan yang membuat permukaan kulit lengan atas sedikit licin. Meskipun ada kemungkinan efektivitasnya kini sudah berkurang karena imunisasinya sudah puluhan tahun lalu, “Tapi bila terinfeksi cacar monyet akan ringan,” kata Anggraini. Sementara di negara maju kini, pemberian anti virus pada pasien cacar monyet masih dipantau lewat uji klinik (clinical trial).

Adapun soal vaksin cacar monyet dari informasi yang diperolehnya, pada 2019 sudah disediakan. Berasal dari vaksin cacar, strain virusnya berasal dari Ankara, Turki. “Diberikan dua dosis tapi ketersediaannya amat sangat terbatas,” ujarnya https://transtourism.id/.

Menurut Anggraini, awal mulai kasus cacar monyet ditemukan pada 1970 di Kongo, juga di Afrika Tengah. “Ada dua tipe yaitu super menular dan lebih berat, juga yang lebih ringan,” ujarnya. Jenis virus cacar monyet di Kongo menurutnya lebih berat dan lebih menular, sementara di Afrika Barat lebih ringan dan tidak terlalu menular. Adapun di Kamerun, kedua jenis virus itu ada.

Baik yang berat atau ringan, kata Anggraini, punya dua proses yang sama. Mulai dari virus masuk, sampai muncul gejala atau inkubasi antara 1-3 minggu dengan waktu rata-rata antara 6-13 hari. Virus itu bisa membuat demam, sakit kepala, sakit otot, punggung, menggigil, lemas, dan muncul kelenjar getah bening. “Setelah 1-3 hari demam, mulai muncul ruam di bagian muka dulu,” ujarnya.

Selain wajah bisa penuh oleh cacar, lokasi lain seperti di telapak tangan dan kaki, di dalam mulut, daerah genital, bahkan bisa muncul di mata sehingga bisa membuat gangguan penglihatan.

Menurut Anggraini, penyakit cacar monyet bisa mengenai berbagai kalangan dari anak hingga dewasa dan bisa sembuh dalam kurun 2-4 pekan. Dari kasus di Afrika, anak-anak kurang gizi rentan terkena. “Bisa menyebabkan pneumonia, kebutaan, sampai meninggal,” kata dia.

Di RSHS Bandung menurut Anggraini, tim Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging (PINERE) telah menyiapkan prosedur penanganan dari mulai penerimaan pasien cacar monyet hingga pulang.